Puisi

Kapan Hari

Kala malam menjemput bulan.
Kala siang menebar terik
Tiada hati ingin menelisik
Sebuah kisah yang jadi pengusik

Namun alam hendak mengungkit
Waktu kita yang saling terkait
Setitik manis beribu pahit
Membentur takdir yang kuat membelit
Melepas belenggu harap di masa sulit
Sungguh ingin alam mengulang sakit
Padamu, padaku yang mencoba menghapus bait

Kapan hari,
Kurang dari satu purnama membulan
Alam berhasil menggaris kita di satu jalan
Bersorak ia kala kita bersinggunan
Kita memercik bara memori, menyulut api ingatan
Terbakar berdua dalam lara panggangan
Pelan, hangus lepas tali kenangan
Habis kita tergulung pusaran hasrat kepalsuan

Lain hari,
Jika alam ingin mencoba kembali
Menabur remah ingatan di atas api
Dirimu, diriku harus mewaras diri

Saat alam mengira rencananya mapan
Teruslah kita berjalan tanpa memelan
Kala kau ke utara, maka aku akan ke selatan
Tak ada tatapan, tanpa sapaan
Berdua kita saling berhindaran
Seolah takdir tak pernah mempertemukan

Biarkan alam mengutuk diri
Tetaplah kita seperti ini
Karena bersama, adalah kata yang telah kita akhiri

===========

Karya : DivaPramudya