cerpen

Kerajaan Hantu

Di sebuah kerajaan hantu kecil, bernama Sawarna, tinggallah keluarga hantu leak, yang menjadi penguasa kerajaan hantu tersebut. Disana, hidup juga keluarga hantu yang lain, seperti kuntilanak, genderuwo, dan hantu-hantu lainnya. Mereka hidup tenteram, aman dan damai. Semua itu, karna manusia, tidak mengetahui keberadaan mereka, kecuali lewat cerita rakyat dan legenda-legenda yang beredar.

Tunggu dulu, kenapa manusia tidak mengetahui keberadaan mereka? Pertama-tama, kerajaan tersebut terletak di gunung yang amat tinggi, sehingga sulit didaki oleh manusia. Kedua, karna mereka memiliki sebuah alat bernama Lali Panginten yang membuat semua manusia yang pernah mendaki kesana, lupa akan kerajaan mereka. Alat ini berbentuk seperti menara, dengan ukiran-ukiran indah di setiap sisinya, bertenaga matahari, dan selalu diisi setiap pagi saat matahari terbit, yang mengubah cahaya menjadi berbentuk cairan, lalu mengalir ke dalam sebuah cawan di bagian bawah “”.

Sebuah hari yang indah dimulai oleh sang leak kecil, yang terbangun dari tidur nya, lalu bersiap-siap untuk bertemu temannya, si kuntilanak kecil. Mereka akan bermain sepakbola hari itu. Sang ayah leak sementara itu, sedang cemas, karena hari ini sangat mendung, pertanda badai akan datang. Ia cemas karna Lali Panginten mungkin tidak akan terisi penuh, sementara, jika hari ini badai, artinya besok akan cerah, dan musim pendakian akan dimulai. Gawat, keberadaan mereka, bisa diketahui manusia.

“Tendang bola nya leak!” jerit si kuntilanak kecil.

“Ini..!” si leak menendang bola tersebut ke arah kuntilanak kecil.

“Hup” dengan mudah ditangkap oleh kuntilanak kecil.

Mereka bermain di pekarangan kerajaan yang indah dekelilingi pepohonan yang rindang dan sejuk, letaknya persis di sebelah ruangan tempat Lali Panginten berada.

“Ah, Cuma segitu tendangan mu leak?” ejek si kuntilanak kecil.

“Coba kalau kamu sekuat apa tendangannya?” tantang leak kecil.

“Lihat ini..” ujar si kuntilanak kecil, seraya menendang bolanya.

“DUAKK!” bolanya menghantam pintu ruangan tempat Lali Panginten berada, berguling sedikit dan tergeletak di lantai.

“Ah, aku juga bisa” ujar si leak. “Lihat ini..” si leak kecil mengayunkan kaki nya, lalu menendang bola tersebut. “DUAAKK!!” bola melayang cepat dan keras, dan terjadilah hal yang tidak disangka-sangka.

“PRANG!!” Bola menghantam cawan kaca tempat cairan tenaga Lali Panginten berada, dan menumpahkan isinya sampai habis.

“Oh tidak” si leak kecil terdengar cemas.

Bersamaan dengan itu, Ayah nya, si Raja leak, berjalan masuk tergopoh-gopoh. Dan setelah melihat yang terjadi, wajahnya seketika pucat. “Siapa yang melakukan ini?!” ujar Raja leak marah.

Leak kecil berdiri kaku, lalu menengok ke belakang mencari si kuntilanak kecil. Namun rupanya sudah tidak ada, ia pasti sudah menghilangkan diri, lalu terbang pergi karna takut. Tinggallah si leak kecil berdiri sendiri.

“Aku ayah, yang menendangnya” Suara kecil si leak mengaku tipis.

“Kamu ceroboh sekali nak, kamu selalu mengacau di kerajaan ini, menjahili orang lain, tidak bertanggung jawab, bagaimana kamu bisa menjadi pewaris kerajaan ini?” ujar sang Ayah kecewa. Seketika itu sang permaisuri, istri Raja Leak, masuk, dan menenangkan sang Raja.

“Sudah Ayah, kita cari pengganti isinya saja.” Ujar sang Permaisuri menenangkan.

“Masalahnya, kita sudah tidak punya cadangan lagi, semua habis karna akhir2 ini sering terjadi badai. Cawan jadi sulit terisi”. Kata Raja Leak sambil melihat sang Permaisuri. “Dan satu-satu nya cadangan, dimiliki oleh penyihir jahat, yang menyimpannya untuk mencuci pikiran manusia yang lewat di dekat rumahnya.” Lanjutnya sambil mengerutkan dahi.

“Nak, kamu harus belajar bertanggung jawab, sebagai hukuman, kamu yang akan mengambilnya dari sang Penyihir”, ujar Raja Leak. Kata kata sang Raja disambut dengan kecemasan sang Permaisuri, yang kuatir dengan anak semata wayangnya.

“Tenang saja, ia harus bisa menjadi kuat, dan bertanggung jawab, lagipula, ia Pangeran kerajaan ini.” Sang ayah terdengar optimis. “Kamu harus bergerak cepat”. Lanjut sang ayah.

Si leak kecil menghampiri ibunya. Dan sang Permaisuri, menggandeng anaknya berkata “Ibu akan membekali mu dengan peralatan yang bisa membuatmu mengalahkan si Penyihir jahat.”

Leak kecil dibantu oleh sang Raja, sedang memasang baju dan perlengkapan untuk pergi ke arah lembah, tempat dimana penyihir jahat tinggal. Sang Permaisuri datang, membawakan tas kecil untuk leak kecil.

“Nak, Ibu sudah mengisi tas ini dengan peralatan yang mungkin bisa kamu gunakan untuk melawan Penyihir Jahat.” Leak kecil melihat ke dalam tas yang diberikan Ibu nya. Ternyata isi nya adalah sebuah pedang besi, tongkat kayu, dan sebuah payung.

“Pedang besi sih mungkin, tapi bagaimana melawan penyihir dengan tongkat kayu dan payung?” pikir si leak kecil.

Tiba lah saat leak kecil untuk berangkat. Sang ayah melepas dengan berkata, “Ini adalah perjalanan mu membuktikan diri mu nak, buat Ayah bangga”.

Sementara sang Permaisuri berkata “Kamu pintar nak, Ibu yakin kamu bisa mengalahkan si penyihir jahat”

Leak kecil memulai langkah pertama nya. Dengan sebuah peta yang menunjukkan letak rumah penyihir jahat, Ia menyusuri hutan, tebing, dan sungai. Pikirannya penuh dengan kenyataan, bahwa Ia harus tiba kembali di Kerajaannya sebelum esok pagi. Mengapa? Sebab esok pasti cerah, para manusia pendaki pasti akan tiba disana, sementara cawan pasti belum cukup terisi untuk Lali Panginten bisa bekerja.

Setelah berjalan 2 jam lama nya, leak kecil tiba di tempat yang tertera di peta. Sebuah rumah reyot kecil, hampir rubuh, dengan atap yang bolong disana-sini.

“Mengapa semua penyihir harus memiliki rumah yang seperti ini?” ujar leak kecil sambil tertawa tipis, seraya menghilangkan rasa takut, yang hampir menghinggapinya.

Leak kecil memang tidak mengenal rasa takut, mungkin karena dia sendiri sudah cukup menyeramkan dan membuat takut, jadi kenapa harus takut akan hal apapun pikirnya. Di antara teman-teman bermainnya, leak dikenal sebagai sosok pemimpin, pintar, namun sangat jahil.

Sembari berdiri dari jauh dan memandang dengan seksama ke arah rumah reyot itu, leak kecil mulai mengatur strategi untuk mengalahkan si penyihir. “Si penyihir pasti belum tau aku akan datang” pikirnya. Tetapi ternyata ia salah…

“Hihihi, ternyata kamu sudah sampai nak leak, aku sudah menunggumu” terdengar suara dari dalam rumah reyot itu. Serta merta keluar lah sosok bungkuk, dengan topi caping, memegang tongkat yang lebih terlihat seperti akar pohon besar, dengan baju compang-camping.

“Dari mana kau tau aku akan datang?” tanya leak kecil.

“Kau tidak lupa kalau aku penyihir bukan?” tanya si penyihir lagi. “Apa maksud kedatangan mu nak?” lanjutnya.

“Tidak bisa kah kau menebaknya juga?” leak kecil balik bertanya.

“Wah wah wah.. kau pemberani seperti ayahmu..” Sahut penyihir jahat. Kali ini Ia memang tampak seperti tidak tahu apa maksud kedatangan Leak Kecil. Ia terlihat berfikir sambil mengelus-elus dagu nya yang runcing.

“Aku datang hendak mengambil cairan cadangan untuk Lali Panginten !” jawab Leak Kecil.

“Wah wah wah.. pasti karena akhir-akhir ini mendung tiba, dan tidak mengisi cawan Lali Panginten ya? Ck ck ck.. Kau tidak bisa mengambil nya begitu saja Leak Kecil..” hardik si Penyihir Jahat.

“Tetapi kau hanya menggunakannya untuk mengelabui dan memberi cerita hipnotis manusia yang lewat di rumahmu, sementara kami untuk niat yang lebih baik..” Ujar Leak Kecil.

“Tetap saja ini milikku.. Dan tanpa ijinku, kau mencuri namanya”.

“Baiklah, aku akan melawan mu Penyihir Jahat”. Tantang Leak Kecil.

“Hihihihi.. sifat yang persis menurun dari ayah mu”. Balas Penyihir Jahat. “Bersiaplah!” Teriak Penyihir Jahat sambil mengayunkan tongkat tanpa basa basi lagi.

Leak Kecil meraih tasnya, mengambil pedang besi, dan menggenggamnya dengan erat. Keputusannya ternyata tepat. Penyihir Jahat melancarkan serangan listrik yang keluar dari ujung tongkatnya, ke arah Leak Kecil. Sambil berpikir cepat, Leak Kecil tau apa yang harus dilakukan. Ia menancapkan pedang nya ke tanah tepat sebelum listrik menyentuh nya, dan benar saja, listrik serangan dari Si Penyihir, menyetrum pedang besi, dan gagal menyentuh Leak Kecil.

“Wah.. hebat juga kau nak, tidak seperti ayahmu” Ucap Si Penyihir, sambil mengayunkan serangan kedua.

“Tidak basa basi rupanya.” ujar Leak Kecil sembari meraih tas nya yang berisi perlengkapan, dan berlari mendekati si Penyihir.

Serangan kedua muncul dari ujung tongkat Si Penyihir, kali ini tongkatnya mengeluarkan api, menyala terang menerjang menuju Leak Kicil. Leak Kecil yang sudah cukup dekat, harus berpikir cepat, Ia meraih tongkat kayu yang diberikan Ibu nya, dan melemparkan tongkat itu ke arah serangan api dari si Penyihir. Api membakar habis tongkat kayu yang dilemparkan Leak Kecil yang seketika juga padam, dan sekali lagi, tidak berhasil menyentuh Leak Kecil.

“Wah.. wah.. beruntung sekali kau nak.” Si Penyihir berdecak. “Tapi keberuntungan, tidak datang tiga kali..” Penyihir Jahat mengayunkan tongkat nya untuk serangan ketiga, sementara Leak Kecil tidak mempunyai apapun kecuali sebuah payung.

“SWOOSSHH..” Serangan ketiga dari tongkat si Penyihir, berbentuk seperti air berwarna hijau, yang ternyata adalah cairan asam. Leak Kecil dengan sigap meraih payung yang merupakan senjata terakhir nya. Ia harus mengakhiri serangan si Penyihir, atau dia akan kehabisan senjata, pada serangan ke-empat.

“FLAAKK..” Leak Kecil menghentakkan payung nya sembari membuka dengan cepat. Tubuhnya terlindung payung didepannya. cairan asam mengenai permukaan payung, dan mengikis permukaan payung tersebut. Tetapi karena hentakan Leak Kecil, cairan asam terciprat kembali ke arah si Penyihir, dan mengenai seluruh tubuhnya.

“AARGH.. Tidak!” Jerit si Penyihir kesakitan. Seluruh tubuhnya terbakar asam, dan melepuh. Ia melempar tongkatnya ke tanah, dan berlari tunggang langgang ke arah hutan di belakangnya. “Ini belum berakhir wahai Leak!” teriaknya dari kejauhan.

“Berhenti lah menculik manusia, maka kau akan kuampuni wahai Penyihir!” teriak Leak Kecil. Namun si Penyihir terlanjur menghilang pergi.

Leak Kecil menginjak tongkat yang dihempaskan ke tanah oleh si Penyihir, dan mematahkan nya menjadi dua. Ia berjalan cepat memasuki rumah reyot di depannya, dan mengambil sebotol penuh cairan tenaga untuk Lali Panginten dan bergegas keluar. Disana Ia mendapati Kuntilanak kecil sedang berdiri.

“Maafkan aku Leak Kecil, aku takut ayah mu akan marah padaku.” Ujarnya membuka percakapan. Ternyata selama ini Kuntilanak Kecil mengikuti Leak Kecil, namun tidak menampakkan diri.

“Tidak apa-apa, memang aku yang salah.” Ucap Leak Kecil menenangkan. “Tapi mungkin aku butuh bantuan mu, untuk sampai Kerajaan dengan cepat.”

“WOHOOO..” Beberapa detik kemudian, Leak Kecil memandang pepohonan kecil di bawahnya. Leak Kecil terbang dengan kedua tangan memegang kedua tangan Kuntilanak Kecil yang terbang diatas nya. Botol berisi tenaga untuk Lali Panginten aman di dalam tas punggungnya.

Mereka akhirnya tiba di pekarangan, berkat Kuntilanak Kecil yang terbang secepat kilat agar tidak terlambat mengisi cawan Lali Panginten. Sang Raja Leak menyambut dengan sukacita, bersama Sang Permaisuri. Dipeluknya sang Leak Kecil, sementara para Penasihat Kerajaan mengambil botol di tas punggung milik Leak Kecil, seraya berlari mengisi cawan Lali Panginten.

Dengan diisi penuh nya Lali Panginten, Kerajaan mereka aman dari gangguan manusia, dan mereka kembali hidup dengan damai. Sang Leak Kecil pun sudah siap menerima takhta Kerajaan, jika dia besar nanti. Mereka pun tidak pernah mendengar apapun tentang si Penyihir Jahat. Semua berkat Leak Kecil, yang bertanggung jawab.