artikel

Nikita Hilang :(

Nikita hilang ! Padahal pagi tadi masih tidur-tiduran di tempat khusus disediakan oleh bapak dari keset bersih dilapisi karpet agar tidak kedinginan. Nikita memang sering keluar kalau sudah mendapat sarapan akan kembali ke rumah usai perjalanan berkelananya kira-kira sehabis duhur sambil mengeong-ngeong keras sekali lalu baru akan berhenti apabila sudah mendapat makan siang. Tapi sampai sekarang, dirinya masih saja belum kelihatan. Kalaupun memang tak mengeong, biasanya Nikita sedang tidur di kolong bawah meja atau di atas kulkas atau di balkon depan kamarku apabila lantainya usai dibersihkan memang mendukung untuk tidur. Namun sudah dicari sampai ke loteng pun tak terlihat. Padahal bulu hitam putih seperti sapi perah –Nikita memang terlihat seperti miniatur sapi perah – seharusnya membuatnya mudah terlihat.

Menggunakan telepon jadulnya bapak menghubungi mbak, menanyakan barangkali Nikita ada di rumahnya. Bapak merasa begitu khawatir, takut Nikita tak bisa pulang sebab diluar sedang hujan lebat dan banjir menggenangi hampir setiap lorong dekat rumah. Saat mbak menjawab tidak ada, hati bapak jadi semakin bingung, bagaimana kalau Nikita memang benar-benar terjebak oleh hujan tak berhenti-henti ?. Ibu dengan pembawaan tenangnya meyakinkan bapak kalau Nikita pasti pulang.

Bagaimanapun, mbak juga ikut memiliki Nikita meski hanya saat Nikita masih kecil. Kalau tidak salah, setelah lebaran tahun lalu lah Nikita resmi berpindah tinggal di rumah ini. Saat itu mbak masih mudik ke rumah mertuanya dengan suaminya. Kami sebenarnya juga mudik ke desa Bapak pada kota sebelah namun hanya menginap semalam saja karena saat lebaran barang dagangan Bapak bisa dijual untuk mendapatkan untung hingga 2 kali lipat.

Mbak memang menitipkan Nikita padaku serta memintaku utuk memberi makan dua kali sehari. Setibanya di rumah, akupun segera ke tempat mbak yang hanya terpisah dua rumah dari rumah kami. Setelah memberi makan Nikita akupun kembali ke rumah. Namun ternyata Nikita mengikutiku. Diriku tidak mengetahuo bahwa jika dia mengikutiku sehingga hanya membiarkan saja diluar meski mulutnya mengeong-ngeong keras. Kupikir Nikita memang ingin bermain diluar. Akan tetapi semakin lama semakin keras. Aku kemudian keluar menggendongnya kembali ke rumah mbak. Namun saat kembali ternyata dia mengikutiku lagi kemudian mengeong-ngeong keras seperti tadi, baru berhenti saat kubuka pintu lalu membiarkan masuk ke rumah. Barulah diriku mengerti bahwa Nikita ingin ikut masuk ke dalam rumah.

Dua hari kemudian saat mbak dan mas iparku kembali dari mudiknya dan membawa Nikita kembali ke rumah mereka, dirinya tak bersedia lalu keluar lagi lalu mengeong dengan keras di depan rumah sampai aku membukakan pintu dan membiarkannya masuk. Sejak itulah Nikita resmi berpindah menjadi kucing kami khususnya Bapak karena memang Nikita lebih sering bersama bapak, seorang wirausaha cukup berdiam diri dirumah sambil siaga jika ada telepon datang dari pemesan agar tidak terlewat. Diriku semakin hari malah semakin sering pulang malam karena banyak acara organisasi atau acara bersama kawan-kawanku tiada bisa berlama-lama di rumah kecuali akhir pekan, itupun apabila tidak ada rapat dadakan atau acara. Begitu juga dengan ibu, apabila tidak sibuk memasak makanan, sebab bapak tak mau makan apabila lauk pagi, siang dan malam sama, maka beliau akan sibuk dengan tugas-tugas kantornya seperti tidak ada habisnya. Jadi tidak heran, kalau bapak begitu bingung jika sampai sore Nikita belum juga terlihat.

Aku baru menuliskan beberapa kalimat untuk cerita baruku “Anak ke Tiga Bapak” yang terilhami oleh hilangnya Nikita harus berhenti dulu sebab kemudian bapak menyuruhku memberi makan Nikita yang basah kuyup dan mengeong-ngeong dengan suara serak. Dia sudah kembali.