cerpen

Cerita Pendek : Gone Astray

Aku tahu kau penasaran, tapi semua ada batasannya. Persetan dengan mereka yang mengatakan bahwa rasa penasaran tak ada batasnya.

Semua harus dibatasi.

Percayalah, hidupmu akan jauh lebih baik jika kau tidak mendalami hal-hal yang tidak seharusnya kau dalami. Karena, selain kau akan membahayakan hidupmu, kau hanya akan membuang-buang waktuku saja.

Kau menyengsarakanku.

+ + +

Kepulan putih menggelayut manja di sekitar hidung, mencoba mengalahkan aroma hujan dan tanah basah yang telah menguasai seisi ruangan sejak kira-kira satu jam yang lalu. Meskipun begitu, wewangian kopi yang berasal dari cangkir merah di sampingnya tak membuat lelaki itu rela berhenti sejenak. Tangan kanannya tak beralih dari punggung tetikus yang terus ia peluk sejak beberapa jam terakhir. Sedangkan tangan kirinya yang sudah kesemutan sejak tadi pun kini nyaris mati rasa karena menopang dagunya tanpa bergerak. Hanya mata yang terus jelalatan dari ujung layar ke ujung yang lain.

“Jamie!”

Sebuah suara memanggil lelaki itu dari arah pintu ruangan. Carlos Motandes, pria paruh baya yang mengantarkan kopinya tadi, kembali melangkah masuk ke dalam ruangan kecil itu dengan berkacak pinggang. “Jamie,” panggilnya lagi, “Jamie, nak!”

Lelaki itu menghela napas sebelum akhirnya membuka mulut, tanpa sedikit pun berniat memutar kepala. “Apa?”

“Aku tahu kau sedang dikejar waktu, tapi pedulikan nasib perutmu! Kau mau sandwich mentimun, tidak? Atau kau mau yang tuna saja?”

“Carl, aku tidak sedang dikejar waktu…,” James Horrison menjawab setengah hati, karena ia berusaha fokus dengan apa yang ada dihadapan matanya. “Kali ini aku dikejar oleh si Paley itu, kau paham? Paley.”

Carlos menghela napas. Ia menggosok bagian bawah hidungnya dengan sebal dan ia pun melangkah keluar ruangan tanpa suara. Baru kali itu James meliriknya sekilas. Ia memerhatikan punggung pria bertubuh tambun itu bergegas menuruni tangga. James tahu ia bakal keluar menembus hujan demi membelikannya beberapa sandwich berbagai isi, ia tahu itu. Tapi James baru bisa menikmatinya saat makan malam nanti.

Dikejar Paley itu jauh lebih mengerikan daripada dikejar waktu, kau tahu ?

James mendesah sembari menyandarkan punggung pada kursi empuknya. Ia mengerang saat merasakan otot-otot lehernya menegang, dan ia memilih untuk meregangkan tubuh sejenak. Kehadiran Carlos telah memusnahkan konsentrasi dan James butuh waktu untuk mendapatkannya kembali cerita cinta.

Merepotkan.

James mendorong kursi agar berputar menghadap jendela di sampingnya. Aroma kopi tak lagi tercium, yang ada hanya bau tanah basah yang sangat kuat dari pot di ambang jendela. Mata kelabu James memerhatikan tetesan-tetesan kecoklatan mengalir di tepi pot, sebelum akhirnya jatuh ke jalan berpaving jauh di bawah sana.

Tak peduli seberapa besar tekanan dari luar, jangan pernah pergi meninggalkan tempatmu hanya untuk merasakan pahitnya jatuh.

“Mati…”

James bergumam pelan. Ia mendesah kecil dan mengerling sekali lagi ke layar komputer. Ia baru saja mengirimkan beberapa data sekaligus pesan kepada Paley, seorang polisi bawah tanah. Bukan mau James pula untuk bekerjasama dengannya, tapi karena suatu peristiwa yang melibatkan perkakas peternakan di ladang gandum, James terpaksa berdiri di balik bayang-bayang Paley untuk sementara waktu jika ia tidak ingin dijebloskan ke penjara.

Lamunan James terpecah ketika sebuah pesan muncul diikuti suara notifikasi yang khas, dan ia segera bergeser ke depan komputer. Ada seseorang tak dikenal yang mengirimkan pesan kepadanya, dan secercah rasa malas sontak menyelimuti hati James. Bukan tegang, takut, atau was-was seperti yang pernah ia rasakan dulu saat pertama kali melakukan hal seperti ini.

Sub: Tolong saya.

Dahi James berkedut samar membacanya. Tak ada seringai kecil di bibir seperti reaksi biasanya ketika membaca pesan semacam itu. Tidak. Ia tidak lagi terhibur.

Ia sudah muak.

James tak perlu repot-repot membaca isi keseluruhan pesan itu. Ia sudah hapal persis apa yang diinginkan oleh pengirim anonim ini. Sudah jelas, ia minta diselamatkan. Ia memohon untuk dibebaskan.

Tapi untuk apa?

Kenapa James mau membantunya? Tanpa membuang-buang waktunya untuk membalas pesan tersebut, James membuang pesan itu. Ia tidak peduli. Kenapa ia mau menolong anonim itu? Kenapa ia harus mau menolong seseorang yang melakukan kesalahan karena kebodohannya sendiri?

Jika ia mendengar dalih bahwa “semua itu tidak disengaja” seperti pada umumnya, atau dalih lain semacam “tak mampu menahan rasa penasaran”, maka sebenarnya itu semua terjadi atas kesadaran orang itu sendiri. Kenapa ia tak menghentikannya jika tahu bahwa melakukan hal itu mampu membawanya sejauh ini?

James bukanlah malaikat, bukan pula hakim. Ia hanyalah seorang pemuda yang terbiasa duduk di depan komputer berhari-hari, tapi ia tahu persis apa yang terjadi di luar sana. Pekerjaannya hanyalah mondar-mandir dari satu situs ke situs lain, menangkap mereka yang “kebetulan” terdampar di tempat yang salah. Seharusnya hal yang seperti itu masih bisa dimaafkan, bukan?

Tapi tidak. Mereka tentu sudah mendapatkan peringatan, karena mereka sudah sampai sejauh ini.

James tak mau membuang-buang waktunya untuk menolong mereka yang tak mengindahkan aturan. Sekali lagi, ia bukanlah malaikat. Bahkan mungkin, ia setan. Ia tak menolong mereka. Ia membawa mereka menuju tempat yang seharusnya mereka tak berada.

James mengirimkan mereka ke Paley, seorang polisi bawah tanah. Apa yang akan terjadi pada mereka selanjutnya, bukanlah urusan James kali ini. Sebab sekarang James bekerja untuk Paley, maka ia tak punya hak untuk melakukan apapun.

Sungguh?

James terdiam. Jemarinya menyentak ringan dan ia merasakan sesuatu mendadak merayap di otaknya. James menahan napas. Buru-buru diraihnya cangkir merah di samping komputer, lalu meneguk kopi yang ternyata masih terlalu panas untuk lidahnya.

“Oh, fuck!”

James mengumpat dan ia setengah membanting cangkir itu ke meja kembali. Ia sontak berdiri dari kursinya dan berlari ke dapur di lantai bawah, kemudian kembali beberapa menit kemudian. Alisnya bertaut, ekspresinya mengeruh, dan ia menggerutu sepanjang jalan.

Meskipun begitu, James merasa agak bersyukur atas kopi panas sialan itu.

+ + +

“Kau butuh udara segar, bung,” Carlos berkata saat James akhirnya turun untuk makan malam. Ia menyudahi aktifitas yang nyaris berlangsung selama empat hari berturut-turut itu dengan rasa lelah luar biasa.

Sembari mengunyah sandwich tuna hangatnya, James mengangguk tanpa suara.

“Bau hujan masih kuat sekali,” lanjut Carlos. “Mumpung udaranya masih mendukung, berjalan-jalanlah keluar.”

“Aghu hau.”

Carlos mengerutkan dahi melihat James berusaha menjawab dengan mulut penuh sandwich. “Telan dulu makananmu, nak!” serunya dengan seringai di bibir pucatnya. Ia sedang mengelap peranti makan basah yang teronggok di atas konter. “Dan, oh, kudengar klub di ujung jalan sudah dapat ijin untuk buka kembali. Sepertinya Madam Goyn tidak menyerah untuk meneruskan bisnisnya.”

James mengangkat tangan, memberikan isyarat bahwa ia akan mengatakan sesuatu sementara ia berusaha menelan makanannya. “Itu, soal itu,” katanya dengan cepat, “Natasha mengatakannya kepadaku minggu lalu.”

“Oh, bung, kalian sudah…?”

“Tidak, tidak.” James mengibaskan tangannya geli, “Natasha akan menikah dengan Robbie dan sekali lagi kukatakan kepadamu, bung, tak ada apa-apa diantara kami!”

“Sungguh? Kupikir ia menangis waktu itu karena kau…”

“Tidak.” James terdiam sejenak. “Dia ada… oh, lupakan saja. Yang penting, Natasha bilang Madam Goyn akan membuka satu bar lagi di dekat Sister Loydaire.”

“Sial, apakah mereka akan bersaing?”

“Nah, mau bertaruh?”

Carlos tertawa. “Ha! Butuh seribu tahun bagimu untuk memenangkan taruhan denganku.”

James mendengus, “kaupikir gertakanmu masih mempan padaku? Aku memang belum pernah memenangkannya, tapi aku takkan menyerah begitu saja. Ingat, aku nyaris mendapatkannya pada taruhan lalu.”

“Masih nyaris, nak!”

James tersenyum masam saat Carlos tertawa lebih keras sambil menggosok piring di tangannya dengan lebih bersemangat. James tak menyahut lagi. Biarlah paman ini tertawa sepuasnya, itu jauh lebih baik daripada mendengarnya bolak-balik mengerutu karena tubuh James makin kurus.

Tak butuh lama bagi James untuk menghabiskan tiga bungkus sandwich sebelum keluar meninggalkan apartemen menuju malam lepas. Ia langsung mengambil napas dalam-dalam setelah menutup pintu apartemen, merasakan udara dingin menusuk hidung hingga relung dadanya. James memejamkan mata, berusaha menyingkirkan penat yang menghalau pikirannya semenjak seminggu terakhir.

Tolong saya.

Mata James terbuka saat ia kembali teringat pesan yang dikirim seorang anonim tadi sore. Kenapa ia tiba-tiba mengingatnya? Padahal James sudah menginjakkan kaki di luar apartemen, yang itu berarti, segala permasalahan di dalam ruang kerjanya takkan dibawa kemari. Ia tentu tidak menyukainya. Air muka James pun mengeruh dan ia menggeleng pelan.

Ia tidak memedulikannya.

Tolong saya.

James takkan memedulikannya.

Tolong...

Aku tak peduli.

James segera melangkah menuruni tangga menuju trotoar, merasakan hembusan angin menerpa kepalanya, menyusuri celah-celah diantara potongan rambutnya yang sangat pendek. Hidungnya memerah dan terasa agak kaku, tapi ia tak peduli. Dinginnya malam akan membekukan kepenatannya, jadi James tak mempermasalahkannya.

Lagipula ia suka dingin.

Terutama yang di malam hari.

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

When the cold breeze seeps in, feel

the night embraces you tight

Mi amor, how are you?

Let’s dance to your deepest cry for me

In the night where I hide this passion

The pleasure I can’t share

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

“Halo?”

James berusaha berkonsentrasi mendengarkan jawaban yang seharusnya ia dapat. Ia baru saja menelepon sebuah nomor dan ia merasakan jantungnya bertalu-talu.

“Halo? Ini aku.”

James kembali berkata. Suaranya lebih pelan dari saat ia pertama kali berbicara dan kali ini ia samar-samar mendengar suara gemerisik dari seberang.

“Kau mendengarku? Jawab aku.”

Saya di sini…”

James tak tahu apa yang sedang ia rasakan ketika mendengar suara itu menyahut. Ia tak ingin mengetahui siapa yang ia telepon, dan James merasa tak terkejut saat mendengar suara serak itu menjawabnya dengan penuh ketakutan.

Rasanya seperti kembang api meledak-ledak di dalam perutnya.

“Siapapun dirimu,” James berbisik, “jika kau menginginkanku, maka aku hanya bisa memberikanmu satu kesempatan..”

Seharusnya tidak.

Apapun itu, tuan.”

Seharusnya jangan.

Alih-alih menjawab, James memejamkan mata. Ia merasakan udara dingin meresap masuk ke dalam dadanya, menggantikan kehangatan yang seharusnya memeluk James dalam kurun waktu setahun terakhir ini.

Ia tidak tahan.

Lagu-lagu itu terus menggelaut di dalam otaknya.

“Kuberitahu kau satu hal,” James berbisik, “jika kau tidak ingin berakhir dihadapan publik, maka kau harus ada bersamaku.”

Apa yang akan kaulakukan?”

Terdengar ketakutan dari nada perempuan di seberang sana. Jelas keadaan yang telah mendesaknya kini akan membuat gadis itu berpikir sesuatu yang buruk, sangat sangat buruk.

Tapi bukankah itu kesalahannya sendiri?

James menghela napas kecil. Ia pun membuka kedua bibirnya yang tipis, dan serangkaian kalimat mulai terucap dari mulutnya. Ia tahu perempuan di seberang sana akan mendengarkan apapun yang ia ucapkan, mengingat kengerian akan resiko yang dihadapinya nanti mengejar bagai setan di depan wajahnya.

Apapun itu, ia pasti akan mendengarkan James.

Apapun.

 

When the cold breeze seeps in, feel

the night embraces you tight

Mi amor, how are you?

Let’s dance to your deepest cry for me

In the night where I hide this passion

The pleasure I can’t share