Uncategorized

Cinta Tak Pernah Tepat Waktu

resensi buku cinta tak pernah tepat waktu

Hai-haii…

Di dini hari ini, saya mau cerita tentang review sebuah buku. Sebenarnya, buku ini mungkin sudah seringkali terdengar di telinga kalian, wahai para penggemar buku indie wk … wk .. Jadi, judul buku yang akan saya review secara singkat adalaah ……

“CINTA TAK PERNAH TEPAT WAKTU”-nya PUTHUT EA

Hmm, jujur, awalnya saya gak begitu tertarik melihat judulnya yang kelihatan sangat menye. Istilahnya, not so me.

Tetapi, again, don’t judge a book by its cover. Isinya ternyata tidak se-menye yang saya bayangkan.
Then, kenapa tiba-tiba saya memilih mereview buku ini dan saya share ?

Well, akhir-akhir ini saya merasa banyak sekali teman-teman yang memposting hal-hal indikasi kegalauan. Atau mungkin saya yang sotoy ? HAHA

Ya, intinya begitulah. That’s why sepertinya saya ingin merekomendasikan teman-teman untuk mengambil salah satu makna yang saya peroleh melalui buku ini.

Sebenarnya, buku Cinta Tak Pernah Tepat Waktu berkisah tentang tokoh ‘aku’ dengan segala tetek bengek ‘kesialan’-nya, baik dalam urusan pendidikan, pekerjaan, hingga percintaan. Ada banyak amanah yang disampaikan oleh Mas Puthut dalam bukunya ini. Salah satu amanah yang menurut saya relate dengan kondisi kegalauan teman-teman di sosmed adalah hal yang akan saya sampaikan.

The thing is, saat ini, remaja umumnya mengalami kegalauan secara periodik. Saya bukannya sotoy, hanya sekadar research kecil-kecilan di sosmed-sosmed yang saya gunakan. Beberapa diantaranya adalah instagram, baik snapgram maupun postingan, twitter, facebook, path, dan lainnya. Kesemuanya selalu memuat satu dua atau bahkan banyak postingan yang mengindikasikan kegalauan dalam hal percintaan. Well, honestly, saya
lumayan antipati menulis sesuatu yang menggunakan kata-kata seperti percintaan. It’s a bit annoying for me on my own *no offense*

Teruntuk teman-teman yang sedang mengalami hal-hal tersebut, saya tidak akan melarang postingan yang mungkin bisa meringankan beban hati kalian. Akan tetapi, alangkah baiknya jika ada hal-hal dan nilai-nilai yang sepatutnya lebih diperhatikan sebagai sebuah makna yang bisa diambil sebagai pelajaran. Itung-itung manfaatnya lebih besar daripada menghabiskan waktu meng-“galau” dan mempostingnya di instagram story sembari menanti si doi paham kode. Gitu? HAHA

Mas Puthut dalam bukunya menggambarkan kondisi-kondisi si ‘aku’ yang mengalami fase-fase percintaan tertentu. Kesemuanya menjurus pada keadaan dimana cinta tak pernah datang secara tepat waktu. Ada berbagai faktor yang menjadi penyebab dari kegagalan menjalin hubungan ke tahap selanjutnya. Mulai dari kasus cinta bertepuk sebelah tangan, waktu yang salah, mencintai orang yang salah, hingga faktor eksternal yang tidak dinyana. Percayalah, semua yang kalian alami juga dialami oleh banyak orang di berbagai belahan dunia. I hate when somebody feel that they are the most miserable people in the world simply because they haven’t get a bf or gf. Well, I’m still single for this 20 year I live in this world and it’s fine. The world doesn’t end guys. I still live happily.

Ada banyak hal yang nyata-nyata dan sering kita alami, terjadi di kehidupan kita, tergambar baik secara eksplisit maupun implisit dalam buku ini. Ada kalanya kita menyukai seseorang dan orang itu tidak menyukai kita. Ada saatnya karma terjadi, dimana orang tersebut telah menyukai kita, tetapi kita sudah tidak menyukai mereka. Ada pula kondisi dimana dua orang sama-sama saling menyukai, tetapi pada waktu yang salah. Ada juga dua orang yang saling menyukai tetapi ada dalam kondisi yang salah, baik sedang menjalin hubungan dengan orang lain, tidak memperoleh restu dari orang terdekat, dan lain sebagainya. See? The earth doesn’t rotate only around you. The world is not about you. There’s a lot of people out there having the same or even a harder world.

Dan… buku ini mengajarkan bahwa we don’t have to live like in a novel. Bolehlah memiliki harapan, but don’t ever say that, kalo jodoh, dia juga ga bakal kemana atau nanti juga kamu akan dapet yang lebih baik dari dia kok. No! Kalo bukan jodoh, ya bukan. Udah, titik. Masalah dia akan kembali or apakah kamu akan dapet yang lebih baik, ya itu  can’t be determined. You will never know. Intinya, jangan hanya berusaha untuk ngadem-ademi simply karena kamu merasa galau dan desperate. Daripada melakukan atau memikirkan hal-hal seperti itu, I think it’s better untuk menyibukkan diri dan melakukan hal-hal yang lebih berguna. Altough we can’t deny that every memories that can drag u down bisa datang kapan saja dan dimana saja. But still, u’ve got to survive cause you have a lot of friend. Menyibukkan diri, melengkapi diri sendiri, dan tanpa sadar, kamu mendekati sebuah kepastian yang dinanti. Ok. The End. Sebelum saya meracau lebih banyak. Dan, kesimpulannya, ini bukan review wkwk