Uncategorized

Jangan Putus Asa

Setiap kali berkesempatan untuk bertemu dengan teman-teman sebaya yang berbeda sekolah, saya tidak pernah luput bercerita tentang beberapa guru saya yang saya benci. Sebenarnya saya sendiri bosan, dan muak berulang kali menceritakan hal ini. Tetapi dari sekian banyak teman-teman sebaya yang saya ajak cerita tentang permasalahan ini baru kali ini saya menemukan jawabannya.

Sebenarnya permasalahan pokok yang sangat saya resahkan adalah metode mengajar yang guru saya berikan di kelas, terutama mata pelajaran Biologi, dan Kimia. Bukan pribadi ataupun sifat gurunya yang saya benci, sama sekali bukan. Guru-guru mapel itu adalah figur idola bagi saya. Guru Biologi saya misalnya, terkenal sebagai orang yang paling rajin puasa sunnahnya di sekolah. Mulai dari puasa daud sampai puasa senin-kamis tidak pernah terlewat beliau kerjakan. Lain halnya dengan guru Kimia saya yang berani kehilangan kesempatan untuk menjadi PNS demi kepentingan keluarga. Mereka semua sangat inspiratif bagi saya. Mereka semua menimba ilmu di deretan atas universitas-universitas negeri terbaik di Indonesia.

Satu-satunya yang saya keluhkan dari keduanya adalah metode pembelajaran yang digunakan. Keduanya sama sekali tidak bisa mengakomodasi siswa atas kebutuhan penyampaian materi yang sistematis dan terarah. Metode penyampaian materi yang digunakan abstrak, loncat-loncat, dan seringkali tidak diawali dengan pembangunan pemahaman dasar peserta didik terhadap materi yang akan dipelajari. Hasilnya? Semaksimal apapun saya dan teman-teman berusaha mengikuti pelajarannya di kelas, kami tetap harus mengulanginya sendiri di asrama. Seakan-akan proses penyampaian materi yang telah dilakukan di kelas sama sekali tidak membuahkan hasil. Percuma dan membuang-buang waktu.

Berbagai cara pernah saya dan teman-teman lakukan untuk membenahi metode pengajaran ini. Mulai dari bicara baik-baik dengan yang bersangkutan, sampai hal terjauhnya mengajukan permintaan guru baru kepada pimpinan sekolah. Tapi sampai sekarang sama sekali belum ada tanggapan yang diberikan. Kami tentu kecewa, kesal, dan marah. Karena pendekatan baik-baik yang kami lakukan terhadap guru yang bersangkutan pun sama sekali tidak mengubah apa-apa sesuai dengan yang kami harapkan. Padahal akan menghadapi Ujian Nasional.

Saya juga menceritakan permasalahan ini kepada alumni-alumni yang juga merasakan masa di bawah pengajaran guru-guru tadi. Dan jawaban yang saya dapatkan sangat mengecewakan.

“Dari dulu tuh, Ustadz ‘itu’ emang kayak gitu ngajarnya. Kalau mau pinter ya belajar sendiri!”

Sampai titik ini saya bertanya, “Lalu mengapa orang seperti itu menjadi seorang guru? Bukankah kewajiban guru tidak hanya dalam cakupan pendidikan atau pembentukan kepribadian, tetapi juga dalam hal transfer ilmu atau pengajaran?”

Saya berhenti protes sejak itu. Dan menerima kenyataan sebagaimana yang diceritakan kakak-kakak kelas yang sudah lulus duluan.

Sampai kemarin saya diberi kesempatan untuk bertemu dengan salah seorang teman saya yang sangat inspiratif, Afkari dalam kegiatan Sekolah Advokasi yang diselenggarakan oleh PW IPM DIY. Ada banyak hal yang saya bicarakan dengannya sampai suatu titik saya tidak tahan untuk kembali menceritakan keresahan saya mengenai metode mengajar guru-guru saya ini.

Di akhir cerita dengan nada putus asa saya bilang, “Kayaknya saya memang salah pilih sekolah kalau mau mendalami IPA. Atau mungkin salah jurusan. Entahlah. Saya jadi takut sama prospek ‘jadi apa’ di masa depan.”

Afkari mencerna cerita saya saja. Tidak banyak berkomentar atau memberikan tanggapan. Saya juga tidak bermaksud meminta tanggapan waktu itu karena saya sudah berada di titik zainit kekecewaan. Saya cuma ingin melampiaskan keresahan itu sekali lagi.

Sampai satu hari setelah saya bercerita, tiba-tiba Afkari nyeletuk kepada saya saat pemateri sedang memaparkan penjelasan.

“Jangan jadi anak yang putus asa !”

Saya termenung sebentar.

Tiba-tiba saya teringat obrolan antara Kak Iqbal Hariadi dengan teman-teman salah jurusannya di salah satu podcastnya.

Yang saya ingat dari obrolan itu adalah poin tentang semua orang pasti mampu melewati masalahnya termasuk kesulitan gara-gara salah jurusan karena somehow Tuhan sudah memberikan manusia kekuatan.

Pernyataan itu persis sekali dengan yang disampaikan dalam Alquran, bahwa Allah tidak akan memberi cobaan yang tidak dapat dihadapi hamba-Nya. Semua sudah diatur-Nya dengan adil.

“Jangan jadi anak yang putus asa!”

Kata-kata itu dalam sekali bagi saya. Saya tersadarkan bahwa selama ini saya masih punya banyak cara untuk menghadapi permasalahan metode pengajaran guru-guru tadi. Saya masih bisa mengakses sumber-sumber belajar lain yang lebih cocok metode pengajarannya dengan saya. Di internet atau mengikuti les di luar kelas, semuanya adalah cara yang disediakan bagi saya untuk menyiasati permasalahan ini.

Mungkin selama ini sudut pandang saya kurang luas. Solusi-solusi saya kurang inovatif. Dan bahwa mungkin permasalahan ini juga sebagai tanda dari Allah agar saya lebih giat lagi dalam mempelajari materi-materi pelajaran tadi.